Contents
Pada tahun 1999, dunia perfilman disuguhkan sebuah karya fiksi ilmiah yang hangat, mengharukan, dan filosofis, diadaptasi dari kisah pendek karya penulis legendaris Isaac Asimov. Film itu adalah “Bicentennial Man“ (Manusia Dua Abad), dibintangi oleh Robin Williams dalam salah satu peran yang paling menyentuh dan transformatif dalam karirnya.
Film Bicentennial Man bukan sekadar kisah tentang robot. Ini adalah sebuah epik tentang kemanusiaan, cinta, kehilangan, dan pencarian makna hidup yang terentang melintasi dua abad. Sinopsis ini akan membawa kita menelusuri perjalanan Andrew, sang robot, dari mesin rumah tangga menjadi manusia seutuhnya.
Awal yang Bicentennial Man Tidak Biasa – Robot NX-01

Kisah dimulai pada tahun 2005, di masa depan yang rapi dan serba otomatis, dengan diperkenalkannya keluarga Martin: Gerald, sang kepala keluarga yang berhati hangat; istrinya, Amanda; dan kedua putri mereka, Grace dan si bungsu, Little Miss Amanda (dipanggil “Little Miss”). Mereka baru saja membeli unit robot rumah tangga seri NX-01, yang mereka namakan Andrew.
Andrew (diperankan oleh Robin Williams) adalah sebuah anomali. Diprogram untuk menjadi pelayan sempurna, ia memiliki fitur mekanis dengan wajah netral. Namun, segera terlihat bahwa Andrew jauh melampaui programnya. Berbeda dengan robot sejenisnya yang patuh secara mekanis, Andrew menunjukkan perilaku yang tidak terduga: kreativitas Wikipedia .
Titik baliknya terjadi ketika Andrew secara tidak sengaja memecahkan patung kaca milik Little Miss. Alih-alih hanya membersihkan, Andrew menggunakan pecahan kaca itu untuk membuat ukiran yang indah, menunjukkan pemahaman intrinsik tentang seni dan apresiasi.
Gerald Martin, yang sangat terkesan dan merasa bertanggung jawab atas keunikan Andrew, memutuskan untuk tidak mengembalikannya. Ia memperlakukan Andrew bukan sebagai properti, melainkan sebagai individu yang istimewa. Gerald mendorong Andrew untuk mengeksplorasi kemampuan barunya, memberinya buku, piano, dan ruang kerja.
Andrew mulai belajar. Ia belajar tentang emosi manusia, etika, dan konsep kemerdekaan. Ia menggunakan bakatnya untuk mengukir dan menciptakan karya seni, yang kemudian dijual melalui perusahaan Gerald. Melalui pendapatan ini, Andrew mengajukan permohonan yang mengejutkan: kebebasan finansial dan kemerdekaan.
Gerald, setelah melalui pertimbangan hukum yang sulit, setuju. Andrew resmi menjadi “orang bebas” (meski masih diakui sebagai robot) dan, sebagai simbol kemerdekaan barunya, ia pindah ke rumahnya sendiri di tepi laut. Namun, janji emosionalnya kepada Little Miss—bahwa ia akan kembali—akan menjadi jangkar yang mengikatnya pada keluarga Martin.
Anatomi Cinta dan Waktu
Waktu berlalu dengan kejam bagi manusia, tetapi tidak bagi Andrew. Dekade demi dekade, ia menyaksikan Little Miss tumbuh, menikah, dan kemudian menua. Andrew tetap muda, kaku, dan abadi. Namun, kekaguman Andrew pada Little Miss—dan kemudian pada keturunan Little Miss—berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam: cinta.
Setelah kepergian Gerald Martin, Andrew menyadari jurang pemisah terbesar antara dia dan manusia: kerapuhan fana dan kemampuan untuk merasakan secara fisik. Ia kembali ke dunia robotik untuk mencari solusi.
Andrew bertemu dengan Rupert Burns, putra dari seorang teknisi robot yang bekerja dengan Gerald Martin. Rupert, seorang penemu cerdas, menjadi kunci transformasi Andrew selanjutnya. Dengan bantuan Rupert, Andrew mulai memodifikasi dirinya.
Ekspresi: Ia mengganti wajah logamnya dengan kulit sintetis yang menyerupai manusia, memungkinkan Andrew untuk tersenyum dan menunjukkan emosi.
Indera: Ia menambahkan sistem saraf buatan yang memungkinkan Andrew merasakan sentuhan, rasa, dan bahkan rasa sakit.
Fungsi Organik: Andrew meniru sistem organ manusia, memungkinkannya untuk makan, mencerna, dan bahkan meniru fungsi jantung.
Andrew kini terlihat dan merasakan dirinya sebagai manusia, tetapi ia masih memiliki satu kekosongan: kehidupan yang terbatas dan pengakuan sebagai manusia sejati.
Pada fase inilah Andrew bertemu dengan Portia Charney (diperankan oleh Embeth Davidtz), cucu dari Little Miss. Portia adalah cerminan sempurna dari neneknya—cerdas, penuh semangat, dan skeptis terhadap Andrew pada awalnya. Namun, seiring waktu, Portia melihat melampaui prostetik dan jatuh cinta pada jiwa Andrew yang unik.
Kisah cinta mereka menjadi sentral. Portia mencintai Andrew, tetapi ia juga tahu bahwa Andrew akan hidup jauh lebih lama darinya.
Pengorbanan Bicentennial Man untuk Kemanusiaan

Setelah puluhan tahun hidup bersama Portia, Andrew kembali dihadapkan pada penderitaan waktu. Portia semakin tua, dan Andrew harus menyaksikan orang yang dicintainya kembali menghadapi kerapuhan fana.
Andrew membuat keputusan paling mendalam dan berani dalam hidupnya: ia ingin mati.
Dengan bantuan Rupert Burns, Andrew menemukan cara untuk membuat sistem sirkulasi buatan yang secara bertahap akan membusuk dan menua, meniru penuaan manusia. Ini adalah pengorbanan tertinggi: Andrew secara aktif memilih untuk melepaskan keabadiannya demi menjadi bagian dari siklus kehidupan manusia.
Andrew mengajukan permohonan terakhirnya kepada Kongres Dunia: agar ia diakui secara resmi sebagai manusia.
Namun, Kongres menolak, menyatakan bahwa selama Andrew masih abadi dan tidak mengikuti siklus alam, ia tidak dapat disebut manusia.
Andrew kembali ke rumah, melanjutkan proses penuaannya.
Klimaks yang Mengharukan:
Di usianya yang ke-200 tahun ( menjadikannya manusia tertua yang pernah hidup – “Bicentennial Man”), Andrew terbaring di tempat tidur bersama Portia yang juga sangat tua dan sakit. Ketika Kongres Dunia menyadari Andrew telah berhasil menyelesaikan modifikasi penuaannya, mereka mengumumkan keputusan akhir mereka.
Pada hari ulang tahun Andrew yang ke-200, ia secara resmi diakui sebagai Manusia. Sayangnya, Andrew tidak pernah mendengar pengumuman itu.
Tepat pada saat pembacaan keputusan, Andrew meninggal dunia, tangannya dipegang oleh Portia. Beberapa saat kemudian, Portia, setelah menyaksikan cinta Andrew yang tak terbatas dan akhirnya mendapatkan pengakuan yang ia dambakan, juga pergi dalam tidur.
Kesimpulan: Warisan Andrew
“Bicentennial Man” adalah sebuah meditasi yang indah tentang apa artinya menjadi manusia. Film Bicentennial Man mengajukan pertanyaan filosofis yang kuat:
Apakah kemanusiaan hanya didefinisikan oleh biologi, atau oleh kemampuan untuk mencintai, berkorban, dan berempati?
Apakah makhluk abadi dapat memahami nilai kehidupan tanpa ancaman kematian?
Andrew Martin, sang robot, membuktikan bahwa jiwa jauh lebih penting daripada wadah fisik. Ia merangkul kerapuhan, penderitaan, dan yang terpenting, kematian, untuk membuktikan dirinya layak mendapatkan gelar “Manusia.”
Melalui perjalanan Andrew selama 200 tahun, film Bicentennial Man mengajarkan kita bahwa cinta adalah program terbaik, dan bahwa nilai sebuah kehidupan tidak diukur dari berapa lama ia bertahan, melainkan dari kedalaman dan kualitas koneksi yang ia ciptakan. Andrew akhirnya menemukan kebahagiaan sejati bukan dalam keabadian, tetapi dalam cinta dan kematian bersama.
Film Bicentennial Man adalah permata fiksi ilmiah yang akan membuat penonton merenung lama setelah kredit akhir bergulir.
Baca fakta seputar : Movie
Baca juga artikel menarik tentang : Kaze Tachinu: Elegi Sayap Baja, Kisah Cinta yang Ditiup Angin


