Kaze Tachinu: Elegi Sayap Baja, Kisah Cinta yang Ditiup Angin

Kaze Tachinu (風立ちぬ), atau yang dikenal secara internasional sebagai The Wind Rises, adalah film animasi dari Studio Ghibli yang dirilis pada tahun 2013 dan disutradarai oleh maestro legendaris Hayao Miyazaki. Film ini sering disebut-sebut sebagai karya panjang terakhir Miyazaki sebelum ia mengumumkan masa pensiunnya (meskipun ia kemudian kembali dengan film How Do You Live?). Berbeda dari sebagian besar film Ghibli yang kaya akan elemen fantasi dan sihir, Kaze Tachinu justru menawarkan sebuah narasi yang lebih membumi, dewasa, dan penuh nuansa, menggabungkan biografi fiksi sejarah dengan kisah romansa yang mengharukan.

Perwujudan Mimpi di Tengah Badai Sejarah

Voice of Words: Kaze Tachinu/The Wind Rises

Film ini merupakan biografi fiksi dari Jirō Horikoshi, seorang insinyur aeronautika Jepang yang terkenal karena merancang pesawat tempur ikonik Mitsubishi A6M Zero, yang digunakan oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Walaupun didasarkan pada kehidupan nyata Horikoshi, Miyazaki mengambil kebebasan artistik untuk menenun kisah ini dengan elemen fiksi, termasuk pertemuan imajiner Jirō dengan idolanya, desainer pesawat Italia Giovanni Battista Caproni, dan kisah cintanya yang tragis Wikipedia.

Cerita dimulai dengan Jirō muda yang bercita-cita menjadi pilot, namun terhalang oleh masalah rabun jauhnya. Ia kemudian menemukan jalannya melalui impian, di mana ia bertemu dengan Caproni. Pertemuan dalam mimpi ini berfungsi sebagai inspirasi dan kompas moral Jirō, yang meyakinkannya bahwa membangun pesawat yang indah adalah impian yang patut dikejar, terlepas dari kenyataan bahwa ciptaan mereka mungkin akan digunakan untuk tujuan perang. Kutipan yang menjadi judul film ini, Le vent se lève, il faut tenter de vivre (Angin berhembus, kita harus berusaha untuk hidup), dari penyair Prancis Paul Valéry, menjadi inti filosofis cerita—dorongan untuk terus hidup dan berkarya meskipun menghadapi realitas yang sulit dan menyakitkan.

Jirō tumbuh menjadi seorang insinyur terkemuka di Mitsubishi. Perjalanannya dipenuhi dengan kegagalan yang menyakitkan, seperti kegagalan uji coba pesawat Mitsubishi 1MF9 dan 1MF10, namun setiap kegagalan hanya memperkuat ketekunan dan dedikasinya. Film ini secara detail dan menawan menunjukkan proses kreatif dan inovasi para insinyur Jepang di tengah keterbatasan teknologi dan ekonomi yang parah saat periode Depresi Besar dan menjelang Perang Dunia II.

Romansa yang Rentan dan Keindahan yang Tragis

Di tengah kesibukannya mengejar impian tekniknya, Jirō bertemu dengan Nahoko Satomi di sebuah resor musim panas. Pertemuan pertama mereka terjadi secara dramatis selama Gempa Besar Kantō tahun 1923, di mana Jirō menunjukkan keberanian dan kepedulian. Kisah cinta mereka adalah jantung emosional dari film ini.

Nahoko adalah seorang wanita muda yang menderita penyakit tuberkulosis, sebuah penyakit yang pada masa itu hampir pasti fatal. Romansa mereka berkembang menjadi kisah cinta yang dewasa dan menyayat hati, di mana Jirō dan Nahoko berjuang melawan penyakit yang mengancam kehidupan mereka. Nahoko, yang menyadari kondisinya, memilih untuk meninggalkan sanatoriumnya dan kembali kepada Jirō, memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamanya, bahkan jika itu hanya sebentar. Momen-momen intim mereka, seperti adegan di mana mereka bermain pesawat kertas, digambarkan dengan visual yang lembut dan dialog yang minim, namun mampu menyampaikan kedalaman hubungan mereka.

Hubungan mereka menjadi metafora yang kuat untuk situasi Jepang sendiri: sebuah pengejaran akan keindahan dan kesempurnaan (pesawat indah) yang terancam oleh kehancuran yang tak terhindarkan (penyakit Nahoko dan perang yang akan datang). Nahoko akhirnya meninggal dunia, ditandai dengan hembusan angin yang tiba-tiba terasa oleh Jirō saat ia sedang berhasil menguji coba purwarupa pesawatnya, Mitsubishi Ka-14.

Pertanyaan Moral dan Warisan Miyazaki

Salah satu aspek yang paling unik dan kontroversial dari Kaze Tachinu adalah pendekatannya terhadap isu moralitas perang. Sebagai seorang pasifis yang terkenal, Miyazaki memilih untuk tidak menghakimi Jirō secara moral karena merancang pesawat tempur. Fokus film ini bukanlah pada penggunaan pesawat tersebut dalam peperangan, melainkan pada proses penciptaan, hasrat, dan keindahan teknik dari sudut pandang seorang seniman/insinyur.

Jirō adalah seorang idealis yang murni mencintai bentuk dan fungsi pesawat terbang, menganggapnya sebagai “mimpi indah.” Film ini dengan lembut namun tegas menyampaikan bahwa mimpi seorang seniman/insinyur, betapapun murninya, dapat dieksploitasi oleh kekuatan militer dan sejarah. Di akhir film, dalam mimpi terakhirnya bersama Caproni, Jirō menyesali bahwa pesawat-pesawatnya digunakan untuk perang, tetapi Caproni meyakinkannya bahwa impiannya untuk membangun pesawat yang indah tetap terwujud dalam bentuk karya besarnya, Zero.

Secara visual, Kaze Tachinu adalah sebuah mahakarya. Animasi Studio Ghibli yang mendetail, terutama dalam penggambaran bencana alam, angin, dan pemandangan udara yang fantastis, memberikan suasana yang autentik dan puitis. Bahkan efek suara pesawat dan gempa dalam film ini dilakukan secara unik menggunakan suara manusia, yang menambahkan dimensi artistik yang lebih dalam.

Kaze Tachinu adalah sebuah film yang dewasa dan berlapis, berfungsi sebagai penghormatan kepada mereka yang hidup dengan semangat dan dedikasi di masa-masa sulit, sebuah elegi untuk impian yang rentan, dan sebuah kisah cinta yang melampaui kematian. Jika ini adalah “swan song” (lagu perpisahan) Miyazaki, maka ini adalah perpisahan yang puitis dan tak terlupakan, menunjukkan bahwa dalam hidup, meskipun angin berhembus kencang membawa realitas yang pahit, kita harus tetap memilih untuk hidup dan bermimpi.

Kedalaman Filosofis dan Gaya Khas Miyazaki dalam “Kaze Tachinu”

Joshua Andrei Rivera - Kaze Tachinu (The Wind Rises) - Fan Art

Meskipun artikel sebelumnya telah membahas alur cerita dan romansa utama, kedalaman sejati Kaze Tachinu terletak pada lapisan filosofisnya yang kompleks dan pilihan artistik Hayao Miyazaki yang berani, terutama dalam konteks narasi sejarah yang sensitif.

Eksistensial: Mengubah Takdir Menjadi Seni

Pesan inti Kaze Tachinu melampaui kisah cinta dan rekayasa; ini adalah meditasi mendalam tentang tragedi dan kreativitas eksistensial. Jirō Horikoshi adalah seorang pencipta. Dalam pandangannya, pesawat adalah bentuk seni, perwujudan keindahan aerodinamis yang mampu “terbang seperti seekor burung.”

Namun, Miyazaki dengan jujur menunjukkan bahwa setiap ciptaan memiliki dua sisi:

  1. Keindahan Murni (Impian): Pesawat adalah simbol kebebasan, kemajuan, dan ekspresi artistik Jirō.

  2. Realitas Tragis (Takdir): Pesawat adalah mesin perang, alat pemusnah yang menyebabkan ribuan kematian.

Jirō hidup di masa di mana impian individu harus tunduk pada kebutuhan negara. Film ini tidak mencoba membebaskan Jirō dari tanggung jawab sejarah, tetapi justru menempatkannya dalam posisi yang rentan: sebagai seniman yang karyanya dicuri oleh takdir yang lebih besar—Perang. Film ini memaksa penonton untuk merenungkan: apakah hasrat untuk menciptakan dan mencapai kesempurnaan teknis dapat dimaafkan, meskipun hasilnya merusak? Miyazaki memilih untuk merayakan hasrat itu sendiri, membiarkan sejarah yang menghakimi hasilnya.

Sentuhan Sinematik Khas Miyazaki

Meskipun minim fantasi, ciri khas sinematik Miyazaki tetap terasa kuat dalam Kaze Tachinu:

1. Penggambaran Angin yang Hidup

Angin (Kaze) bukan hanya judul; ia adalah karakter. Miyazaki memvisualisasikan angin sebagai kekuatan yang mendorong dan merusak. Angin membawa Jirō bertemu Nahoko, angin menguji desain pesawatnya, dan pada akhirnya, angin yang membawa kepergian Nahoko. Melalui animasi yang menawan, penonton benar-benar bisa merasakan kekuatan alam, dari embusan lembut di padang rumput hingga badai dahsyat.

2. Adegan Bencana yang Puitis

Gempa Besar Kantō tahun 1923 digambarkan dengan kengerian yang menakjubkan. Alih-alih fokus pada darah dan kehancuran, Miyazaki menggunakan teknik visual yang kuat—tanah bergelombang seperti ombak, atap-atap yang berjatuhan, dan api yang menjalar. Penggambaran ini terasa nyata dan sureal pada saat yang sama, menekankan betapa kecilnya upaya manusia di hadapan kekuatan alam.

3. Penggunaan Suara yang Unik (Auteure)

Keputusan untuk menggunakan suara manusia untuk efek mesin, khususnya gempa dan mesin pesawat, adalah keputusan artistik yang radikal. Ini memberikan film perasaan yang organik dan kadang-kadang tidak nyaman, menekankan bahwa bencana dan mesin perang adalah produk dari tindakan dan kehadiran manusia, bukan hanya bunyi mekanis yang dingin.

Baca fakta seputar : movie

Baca juga artikel menarik tentang : Concrete Utopia: Menyelami Drama Manusia di Tengah Kehancuran Kota

Author